Bagaimana Cara Kerja Abamektin?

Perkenalkan:

Abamektin Pburung hantu adalah alat yang ampuh dalam pengelolaan hama, namun memahami cara tindakannya sangat penting untuk memaksimalkan efektivitasnya sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan.

Apa itu Abamektin dan Bagaimana Penggunaannya dalam Pertanian?

Abamectin adalah semprotan serangga dan akarisida dengan jangkauan luas yang diperoleh dari bakteri tanah Streptomyces avermitilis. Ini termasuk dalam kelas campuran avermectin dan banyak digunakan dalam pertanian untuk mengendalikan berbagai hama, termasuk hama, nematoda, dan serangga.

Abamektin adalah senyawa avermectin yang pada dasarnya mengandung avermectin B1a dan B1b. Campuran ini memiliki struktur lakton makrosiklik yang kompleks dan tidak larut dalam air namun dapat larut dalam pelarut alami. Abamektin stabil dalam kondisi penyimpanan normal dan menunjukkan aktivitas tinggi terhadap berbagai macam serangga dan tungau hama.

blog-1-1

Abamektin bertindak sebagai neurotoksin dengan mengikat saluran klorida di sel saraf dan otot serangga dan tungau. Hal ini mengganggu kemampuan normal saluran-saluran ini, menyebabkan masuknya partikel klorida dan hiperpolarisasi lapisan sel. Akibatnya, impuls saraf terhambat, dan hama mengalami kelumpuhan dan akhirnya mati.

Abamektin mampu melawan berbagai macam iritasi, termasuk serangga, penggerek daun, kutu daun, ulat bulu, hewan melata, thrips, dan hama serangga. Digunakan untuk mengendalikan serangga di berbagai hasil panen seperti sayur-sayuran, barang-barang normal, kapas, kedelai, tanaman hias, dan tembakau. Abamektin mempunyai pergerakan translaminar dan sistemik, artinya dapat masuk ke jaringan tanaman dan sampai ke serangga yang hidup baik di permukaan daun maupun di dalam jaringan tanaman.

Dalam bentuk bubuknya, abamektin biasanya dicampur dengan air untuk membuat larutan semprot untuk diaplikasikan pada tanaman. Bubuk Abamektin diterapkan di bidang pertanian melalui penyemprotan daun, penyiraman tanah, perawatan benih, dan injeksi ke batang pohon. Percikan daun adalah strategi penerapan yang paling umum, di mana pestisida dilemahkan dalam air dan langsung disiramkan ke dedaunan tanaman.

Penyiraman tanah dan perawatan benih digunakan untuk mengendalikan hama yang tinggal di tanah, sedangkan suntikan batang digunakan untuk hama yang menyerang tanaman berkayu. Ia bertindak dengan mengganggu sistem saraf hama sasaran, yang menyebabkan kelumpuhan dan akhirnya kematian. Ketahanannya terhadap banyak serangga menjadikannya alat penting bagi petani untuk mencoba melindungi tanaman mereka dari bahaya dan meningkatkan hasil panen.

Abamektin sering digunakan sebagai bagian dari program pengelolaan hama terpadu (IPM), yang bertujuan untuk meminimalkan ketergantungan pada pestisida sintetis dan mendorong praktik pengendalian hama berkelanjutan. Dalam PHT, abamektin dapat digunakan dalam kombinasi dengan metode pengendalian budaya, biologi, dan bahan kimia lainnya untuk mengurangi populasi hama sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan melestarikan musuh alami hama.

Bagaimana Abamectin Mengganggu Fisiologi Hama?

Abamektin bekerja dengan mengikat reseptor spesifik di sel saraf hama, sehingga mengganggu fungsi normalnya. Gangguan ini menyebabkan kelumpuhan dan akhirnya kematian pada serangga dan tungau yang rentan. Berbeda dengan insektisida tradisional, yang terutama menargetkan saluran natrium sistem saraf, Bubuk Abamektin bekerja pada saluran klorida berpintu glutamat, sehingga efektif melawan hama yang resisten terhadap golongan bahan kimia lainnya. GluCl adalah saluran ion yang mengatur aliran ion klorida melintasi membran sel sebagai respons terhadap neurotransmitter glutamat.

Setelah berikatan dengan GluCls, abamektin mengganggu fungsi normal saluran ion ini. Biasanya, ketika glutamat berikatan dengan GluCls, saluran terbuka, memungkinkan ion klorida mengalir ke dalam sel. Masuknya ion klorida ini menyebabkan hiperpolarisasi membran sel, membuatnya kurang bergairah dan menghambat pembentukan impuls saraf.

Namun, ketika abamektin berikatan dengan GluCl, saluran tersebut tetap terbuka untuk waktu yang lama, menyebabkan hiperpolarisasi berkelanjutan pada membran sel. Hiperpolarisasi yang berkepanjangan ini menghambat transmisi impuls saraf, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya gerak hama. Tanpa kemampuan untuk mengirimkan impuls saraf secara efektif, hama menjadi tidak dapat bergerak dan akhirnya menyerah pada efek abamektin.

Gangguan saluran klorida dan gangguan transmisi impuls saraf mempunyai konsekuensi fisiologis yang besar bagi hama. Kelumpuhan terjadi dengan cepat setelah terpapar abamektin, menyebabkan hama tidak dapat makan, kawin, atau melakukan perilaku penting lainnya. Ketika kelumpuhan berlangsung, proses fisiologis penting seperti pernapasan dan pencernaan juga terpengaruh, yang pada akhirnya menyebabkan kematian hama.

Selain itu, abamektin menunjukkan aktivitas translaminar, yang berarti dapat menembus jaringan tanaman dan menargetkan hama yang memakan permukaan dan bagian bawah daun. Tindakan sistemik ini meningkatkan kemanjurannya dan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap hama.

Apakah Ada Implikasi Lingkungan dari Penggunaan Abamektin?

Meskipun abamektin efektif dalam mengendalikan hama, penggunaannya secara luas menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan. Memahami implikasi ini sangat penting untuk menerapkan praktik pengelolaan hama berkelanjutan dan meminimalkan dampak buruk terhadap ekosistem.

Bubuk Abamektin berbahaya bagi sejumlah besar makhluk hidup, termasuk serangga yang menguntungkan, makhluk hidup di lautan, burung, dan mamalia. Meskipun obat ini menargetkan hama tertentu seperti tungau, nematoda, dan serangga dengan mengganggu fungsi sistem sarafnya, organisme non-target juga dapat secara tidak sengaja terpapar residu abamektin melalui kontak langsung, konsumsi, atau kontaminasi lingkungan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak disengaja terhadap serangga bermanfaat seperti penyerbuk (misalnya lebah dan kupu-kupu), musuh alami hama, organisme akuatik (misalnya ikan dan amfibi), dan satwa liar.

Abamectin menunjukkan persistensi sedang hingga tinggi di lingkungan, bergantung pada faktor-faktor seperti jenis tanah, iklim, dan tingkat penerapan. Ia mempunyai waktu paruh yang berkisar dari beberapa hari hingga beberapa saat di dalam tanah dan dapat bertahan lebih lama dalam kondisi perairan. Residu abamektin yang bertahan lama meningkatkan risiko akumulasi di tanah, badan air, dan sedimen, sehingga berpotensi berdampak pada organisme dan ekosistem non-target seiring berjalannya waktu.

Penumpukan abamektin di dalam tanah dapat mempengaruhi jaringan mikroba tanah, termasuk organisme mikroskopis, parasit, dan mikroorganisme lain yang penting untuk siklus nutrisi, kesuburan tanah, dan kesejahteraan tanaman. Meskipun abamektin terutama menargetkan hama, hal ini juga dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan pada organisme tanah non-target, sehingga berpotensi mengganggu ekosistem dan proses tanah. Perubahan variasi dan tindakan mikroba dapat mengubah struktur tanah, pembusukan bahan alami, dan ketersediaan unsur hara, sehingga berdampak pada kesejahteraan dan efisiensi tanah secara luas.

Selain itu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa abamektin dapat berkontribusi pada pengembangan resistensi pestisida pada hama sasaran, sehingga memerlukan strategi pengelolaan yang cermat untuk menjaga efektivitasnya. Upaya pengelolaan hama terpadu (PHT), menggabungkan rotasi dengan berbagai racun serangga dan penggunaan bahan pengendalian organik, dapat membantu menghilangkan risiko hambatan dan mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetis.

Kesimpulan:

Sebagai kesimpulan, Bubuk Abamektin adalah alat yang berharga dalam pengelolaan hama pertanian, berkat sifat insektisidanya yang kuat dan aktivitas spektrum luasnya. Bagaimanapun, pemanfaatannya harus disertai dengan pemikiran yang hati-hati mengenai konsekuensi alaminya dan kepatuhan terhadap praktik administrasi terbaik untuk membatasi bahaya terhadap makhluk non-target dan memajukan agribisnis yang ekonomis.

Referensi:

  1. Nauen, Ralf. "Mode Aksi Insektisida: Kembalinya reseptor ryanodine." Ilmu Pengendalian Hama, 2019.
  2. Stumpf, N., & Nauen, R. "Resistensi silang, pewarisan, dan biokimia resistensi abamektin di Tetranychus urticae (Acari: Tetranychidae)." Ilmu Pengendalian Hama, 2001.
  3. Jeschke, Peter, dan Matthias Drost. "Avermectin insektisida: konsep bioaktivitasnya." Review Pencemaran Lingkungan dan Toksikologi, 2011.
  4. Mulla, Mir S., dkk. "Toksisitas avermectin terhadap serangga air." Jurnal Asosiasi Pengendalian Nyamuk Amerika, 1993.
  5. taman, Thomas C., dan William NHS Hancock. "Resistensi silang dalam insektisida kelas avermectin: Pembaruan." Ilmu Pengendalian Hama, 2005.